Berita

Sebanyak 14 perjanjian perdagangan menunggu buat lekas diselesaikan

Departemen Perdagangan( Kemendag) mendesak penyelesaian 14 perjanjian perdagangan internasional yang sudah diinisiasikan.

Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita menyebut dalam 5 tahun terakhir paling tidak telah terdapat 13 perjanjian perdagangan internasional yang ditandatangani serta diimplementasikan. Dengan berlakukanya perjanjian perdagangan itu hingga hendak memperluas akses ekspor.” Sebanyak 14 perjanjian perdagangan internasional pada 2019 ini dalam proses penyelesaian,” kata Enggartiasto, Kamis( 3/ 10).

Enggartiasto menarangkan, sebagian perjanjian perdagangan internasional yang dikala ini tengah diupayakan buat rampung antara lain merupakan Indonesia- Uni Eropa Comprehensive Economic Partnership Agreement( CEPA), Indonesia- Korea CEPA, serta Indonesia- Turki CEPA, Indonesia- Tunisia Preferential Trade Agreement( PTA).

Setelah itu, Regional Comprehensive Economic Partnership( RCEP), ASEAN Economic Community( AEC), ASEAN- India Gratis Trade Agreement( FTA), ASEAN- Australia New Zealand FTA, serta Protocol ASEAN on Enhanced Dispute Settlement Mechanism( EDSM) Perjanjian Perdagangan .

” Bila kita tidak membuka pasar baru, kita hendak kalah dari Vietnam serta negara- negara lain,” kata Enggartiaso.

Enggartiasto menyebut semenjak 1990 sampai 2015, Indonesia baru menyepakati 10 perjanjian perdagangan dengan sebagian negeri mitra. Antara lain merupakan, ASEAN Gratis Trade Zona( AFTA), ASEAN- China FTA, serta Indonesia- Jepang Economic Partnership Agreement( IJEPA).

Sebagian perjanjian perdagangan internasional tersebut antara lain merupakan, Indonesia- Chile CEPA, Nota Kesepahaman dengan Palestina, Indonesia- Australia CEPA, Indonesia European Gratis Trade Agreement( EFTA) CEPA, serta ASEAN Trade in Goods Agreement( ATIGA).

Dalam merampungkan perjanjian perdagangan internasional, lanjut Enggartiasto, diakui banyak tantangan baik dari dalam ataupun luar negara. Tantangan dari dalam negara antara lain merupakan tiap- tiap departemen lembaga mempunyai ego sektoral besar.

” Tiap- tiap mempunyai kepentingan dari departemen ataupun lembaga, sedangkan dengan negeri lain, mempunyai kepribadian yang berbeda- beda. Tantangan dari internal, eksternal, itu membutuhkan keahlian tertentu,” tutup Enggartiasto.

Sedangkan, Direktur Jenderal Negosiasi Perdagangan Internasional( PPI) Kemendag, Iman Pambagyo menyebut satu perjanjian yang bisa lekas disepakati pada akhir tahun ini merupakan Indonesia- Korea CEPA.

” Mungkin Indonesia- Korea CEPA, perjanjian itu pula signifikan sebab investor telah siap- siap masuk ke kawasan mari( Indonesia). Jika dapat selesaikan( perjanjian) hingga hendak mendesak( investasi) lagi,” kata Iman.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *